Senin, 14 Mei 2012

Etihad Stadium: The New “Theatre of Dream” of Manchester

Bagaimana dramatisnya Manchester City meraih juara Liga Primer Inggris semalam makin membuktikan bahwa kompetisi terbaik di dunia memang berada di Tanah Inggris. Semua kita yang menyaksikan di televisi merasakan ketegangan hingga detik-detik terakhir layaknya sebuah pertandinan final Piala Dunia atau Liga Champion.   
Kita patut ucapkan terima kasih kepada orang Inggris. Pertama karena merekalah yang “menemukan” sepak bola. Kedua tentu saja karena mereka pula yang membuat kompetisi sepak bola ditata secara profesional, menarik, dan menegangkan. Sejak Liga Primer Inggris bergulir pada 1991, seluruh dunia pun mengadopsi tata kelola liga profesional dari sana.
Sepanjang dekade 1990-an, Liga Inggris mungkin kalah tenar dibanding Liga Italia. Tapi kemudian Serie A mengalami penurunan kualitas terutama sekali akibat skandal calciopoli pada 2006 yang memalukan itu. Sejak itulah Liga Primer mejadi liga nomor satu karena ketatnya persaingan untuk merebut gelar, jatah Eropa, atau lolos dari jurang degradasi.

Kamis, 10 Mei 2012

Ada Dua Arema, Tapi (Masih) Satu yang Edan


Cukup banyak klub Indonesia yang terinspirasi dengan binatang. Maka dijadikanlah nama-nama binatang sebagai  julukan. Sebagai pencinta sepak bola nasional pastilah kita akrab dengan nama Kabau Sirah atau Kerbau Merah (Semen Padang), Juku Eja alias Ikan Merah (PSM), Bajul Ijo (Persebaya), Maung Bandung (Persib), Ayam Kinantan (PSMS), Macan Putih (Persik), atau Macan Kemayoran (Persija). 

Jika kita perhatikan, nama-nama binatang itu ditambahi warna kostum atau daerah di mana klub itu bermarkas. Tapi Arema adalah satu kekecualian. Entah ingin beda sendiri, orang-orang Malang menambahkan kata sifat pada julukan binatang Arema, Singa. Jadilah nama “Singo Edan” dilekatkan pada klub yang berdiri pada 1987 itu sampai sekarang.

Merujuk prestasinya, Arema memang edan. Tidak hanya ketika berlaga di era Galatama, setelah itu pun prestasinya cukup membanggakan. Dua kali juara Piala Indonesia, sekali merengkuh trofi ISL. Bukan itu saja, suporternya yang dikenal dengan Aremania juga sama edannya. “Tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana” menjadi penegas betapa Aremania setia memberi sokongan untuk klub kesayangan mereka.

Senin, 07 Mei 2012

Inter Menang, Liga Champion Tetap Melayang (?)

inter.it
Ironis! Inilah kata yang paling pas ditujukan untuk Inter Milan ketika dini hari tadi berhasil mengalahkan rival sekota, AC Milan. Dalam sejarah Derby della Madonina, keberhasilan mengalahkan Rosonerri berpengaruh besar bagi prestasi Inter. Tapi tahun ini, hanya sedikit, kalau bukan nyaris tidak ada, manfaat dari kemenangan derby itu.  
Sungguh sangat disayangkan jika klub sebesar Inter tidak bisa berlaga di Liga Champion musim depan. Ini konsekuensi logis dari penampilan buruk Nerazzurri, sekaligus dampak menurunnya poin koefisien Liga Italia. Faktor yang pertama jelas paling menentukan karena jangankan bersaing merebut scudetto, berada di papan atas saja sulitnya bukan main. Faktor kedua hanya menambah kepedihan karena kini tidak lagi posisi empat, tetapi penghuni tiga besar saja yang bisa berlaga di kompetisi tertinggi antarklub Eropa.
Melihat bagaimana penampilan Sneijder dkk dini hari tadi, tidak ada yang berbeda seperti derby Milan terdahulu. Kemenangan melawan klub sekota berarti tidak hanya tambahan tiga angka, melainkan juga pembuktian siapa pemilik Kota Mode itu. Apalagi, mengalahkan AC Milan sama dengan memberi jalan lapang bagi Juventus yang sedang berada di capolista.

Minggu, 06 Mei 2012

“Killing Punch” The Blues itu Bernama Drogba


premierleague.com
Pastilah jantung kita hampir copot tatkala menyaksikan petinju Daud Jordan terjatuh karena pukulan Lorenzo Villanueva, Minggu malam kemarin. Lawannya yang asal Filipina itu melancarkan serangan bertubi-tubi lewat tangan kiri meski laga baru berjalan satu ronde. Kita tambah pesimis tatkala membaca statistik Lorenzo yang dalam sejarahnya selalu menang KO.  
Tapi Si Cino tahu bahwa di balik kekuatan itu terselip juga kelemahan. Memasuki ronde kedua, petinju asal Kalbar itu membalas dengan pukulan yang tak kalah mematikannya. Lawan pun jatuh. Tapi Lorenzo masih mampu bangkit untuk melanjutkan “perkelahian”-nya. Entah dalam keadaan sadar penuh atau tidak, lagi-lagi Cino menyasarkan tinjunya tepat di muka Lorenzo. Kembali, sang lawan tersungkur. Tapi kali ini dia tidak bisa bangkit kembali dan wasit pun menghentikan duel seru tersebut. Daud Jordan menang hanya dengan dua ronde!

Rabu, 25 April 2012

Chelsea Telah Membumikan Barcelona

uefa.com
Ditatap 100 ribu pasang mata, yang hampir semua pendukung tuan rumah, pemain-pemain Chelsea tidak sedikitpun menunjukkan rasa gentarnya. Mereka seolah yakin keunggulan satu gol di leg pertama membuat peluang lolos ke final Liga Champion menjadi mudah. Padahal semua orang tahu bahwa lawan yang dihadapi adalah tim terbaik di dunia saat ini. Bahkan sampai ada yang bilang Barcelona berasal dari planet lain. 

Tapi penampilan Chelsea dini hari tadi membuktikan bahwa El Barca bukannya tidak bisa dikalahkan. Yang diperlukan hanyalah otak yang sedikit cerdas dipadukan dengan keberuntungan. Ini dipunyai oleh Roberto Di Matteo dan anak buahnya.  

Rabu, 04 April 2012

Kehebatan Barcelona: Tiki-taka, La Masia, dan Wasit!

sumber gambar: uefa.com
Tidak ada orang di muka bumi ini yang meragukan kehebatan Barcelona di bawah asuhan Joseph Guardiola. Pemain-pemain terbaik dunia bercokol di klub asal Catalan tersebut. Gaya bermain tiki-taka yang mengandalkan penguasaan bola turut berperan serta menjaga stabilnya kemenangan. Semua ini berujung pada prestasi yang bisa dinyatakan lewat satu kata: mengagumkan! 

Semua tim lantas terobsesi menaklukkan El Barca, entah itu di Spanyol maupun level Eropa. Pelatih-pelatih hebat dan kenyang pengalaman berpikir bagaimana cara meredam Xavi cs. Namun sayang, tatkala tim-tim itu tampil hebat dalam sebauh pertandingan, ada kekuatan lain yang membuat kemenangan gagal diperoleh.  

Kamis, 15 Maret 2012

Duh, Tahun ini Inter Tanpa Gelar

sumber gambar:indonesia.inter.it
Sekiranya Inter lolos dari babak perdelapan final Liga Champion tahun ini, belum tentu juara tahun 2010 bisa terulang. Tapi paling tidak, dengan terus bermain di LC, Inter bisa menjaga martabatnya sebagai tim besar Eropa. 

Rentetan hasil buruk di kompetisi domestik, baik itu di Serie A ataupun Coppa Italia, kembali terulang di level Eropa. Tahun ini I Nerazzurri terpaksa menikmatinya tanpa satupun trofi utama. Sebagai interisti sejati, saya mencoba pura-pura lupa tahun berapa terakhir kali La Beneamata tidak mendapatkan juara. Sudah lama sekali yakni pada musim 2003/2004, ketika saat itu Inter masih belum sekuat tahun-tahun terakhir ini. 

Rabu, 07 Maret 2012

AC Milan Hampir Mengecewakan Italia



sumber gambar: acmilan.com

Sekiranya gagal lolos ke babak perempat final Liga Champion musim ini, lengkaplah predikat AC Milan sebagai klub “pemberi rekor”. Menang 4-0 dari Arsenal di leg pertama membuat leg kedua 16 besar begitu mudah bagi I Rossonerri. Tapi, menilik masa lalu, kemenangan besar itu justru bisa jadi momok.  

Dalam satu dekade lalu saja, AC Milan dua kali "memberi rekor" di keikutsertaannya di Liga Champion. Perempat final musim 2003/2004, tim asal kota Milan ini begitu meyakinkan ketika mengalahkan Deportivo La Coruna, 4-1 di San Siro. Tapi di Riazor, Super Depor berhasil membalikkan keadaan dengan unggul 4-0. Tidak ada yang menyangka, tim yang sangat berpengalaman di liga Eropa bisa takluk dari klub “bau kencur” asal Spanyol itu.

Minggu, 26 Februari 2012

AC Milan Akan Beruntung di Lain Kesempatan



sumber gambar: fifa.com

Perdelapan final Piala Dunia 2010. Inggris tertinggal 1-2 dari Jerman di babak pertama. Untuk lolos The Three Lions harus mengejar selisih satu gol itu. Lalu datanglah momentumnya. Frank Lampard yang berdiri di luar kotak penalti  menerima bola yang lansung dilesakkannya dengan keras ke arah gawang. Si kulit bundar menyentuh mistar dan memantul dengan keras ke tanah melewati garis gawang. Tapi dengan cekatan Manuel Nauer mengambil bola seolah itu bukan gol. Sang wasit dan hakim garis pun mengiyakan tindakan Nauer. Inggris gagal menyamakan kedudukan dan harus kebobolan dua gol lagi sehingga harus berhenti di babak 16 besar.

Sabtu, 25 Februari 2012

PSSI “Dimakan” Ibunya Sendiri


Beberapa tahun lalu, timnas Indonesia sering disebut orang-orang dengan nama “tim PSSI”. Ini tentu agak ganjil karena PSSI hanyalah sebuah induk olahraga sedangkan tim nasional biasanya membawa nama negara. Belum lagi, di dada kiri seragam timnas, tidak terpampang logo PSSI sebagaimana timnas negara-negara lain. Lambang negara Garuda Pancasila-lah yang dipakai. 

Menurut kisah yang pernah saya baca, sebutan “tim PSSI” itu bermula dari dualisme induk sepak bola di Indonesia semasa penjajahan Belanda dan beberapa saat sesudah Indonesia merdeka. Ada federasi yang didirikan oleh orang-orang Belanda; dan ada PSSI sendiri yang didirikan oleh Suratin pada tahun 1930. 

PSSI dilahirkan oleh tujuh klub sepak bola yang di antaranya sekarang bermetamorfosis menjadi Persija Jakarta, Persebaya Surabaya, Persis Solo, PSIM Yogyakarta, PPSM Magelang. PSSI dibuat sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan orang-orang Belanda. Itu artinya, tatkala pada tahun 1938 Hindia Belanda bermain di Piala Dunia, PSSI bukanlah yang mewakili Indonesia.