Air Mata untuk Timnas
Ketika Timnas Indonesia kalah dari Thailand di final Piala AFF 2016, air mata saya menetes. Sedih karena untuk kesekian kali kita hanya sebagai runner-up di Asia Tenggara. Tidak hanya alasan sepak bola mungkin. Karena di akhir tahun 2016 itu, Indonesia lagi terbelah dan hanya sepak bola yang bisa menyatukannya kembali dengan singkat. Sepuluh tahun kurang beberapa bulan, air mata kembali membasahi pipi. Tidak banyak memang. Tapi kali ini tangis bahagia, suka cita yang tidak tertara. Kali pertama dalam masa dewasa saya, Timnas Indonesia menjadi raja Asia Tenggara. Boleh saja kita bangga bahwa Timnas Indonesia mulai merangkak ke level lebih tinggi. Garuda masuk perdelapan final Piala Asia, bersaing ketat di Kualifikasi Piala Dunia. Akan tetapi, jangan kita bohong. Asia Tenggara adalah asal muasal kita. Dan, sialnya, di tempat ini pula kita selalu ketiban apes. FIFA ASEAN Cup 2026 mungkin turnamen baru. Tapi dari namanya, kita pasti tahu bahwa inilah kompetisi paling prestisius...