Postingan

Chelsea Telah Membumikan Barcelona

Gambar
uefa.com Ditatap 100 ribu pasang mata, yang hampir semua pendukung tuan rumah, pemain-pemain Chelsea tidak sedikitpun menunjukkan rasa gentarnya. Mereka seolah yakin keunggulan satu gol di leg pertama membuat peluang lolos ke final Liga Champion menjadi mudah. Padahal semua orang tahu bahwa lawan yang dihadapi adalah tim terbaik di dunia saat ini. Bahkan sampai ada yang bilang Barcelona berasal dari planet lain.  Tapi penampilan Chelsea dini hari tadi membuktikan bahwa El Barca bukannya tidak bisa dikalahkan. Yang diperlukan hanyalah otak yang sedikit cerdas dipadukan dengan keberuntungan. Ini dipunyai oleh Roberto Di Matteo dan anak buahnya.   Di Matteo sadar bahwa sepak bola tidak boleh memiliki definisi yang tunggal. Selama ini selalu terucap sepak bola sejati adalah permainan menyerang. Jika sebuah tim melakukan yang sebaliknya alias bertahan, maka itu adalah antitesis dari sepak bola, negatif football . Sebagai Italiano, Di Matteo tidak mau t...

Kehebatan Barcelona: Tiki-taka, La Masia, dan Wasit!

Gambar
sumber gambar: uefa.com Tidak ada orang di muka bumi ini yang meragukan kehebatan Barcelona di bawah asuhan Joseph Guardiola. Pemain-pemain terbaik dunia bercokol di klub asal Catalan tersebut. Gaya bermain tiki-taka yang mengandalkan penguasaan bola turut berperan serta menjaga stabilnya kemenangan. Semua ini berujung pada prestasi yang bisa dinyatakan lewat satu kata: mengagumkan!  Semua tim lantas terobsesi menaklukkan El Barca, entah itu di Spanyol maupun level Eropa. Pelatih-pelatih hebat dan kenyang pengalaman berpikir bagaimana cara meredam Xavi cs. Namun sayang, tatkala tim-tim itu tampil hebat dalam sebuah pertandingan, ada kekuatan lain yang membuat kemenangan gagal diperoleh.  Guus Hiddink, Arsene Wenger, dan Jose Mourinho adalah sedikit dari pelatih-pelatih hebat itu. Pada musim 2008/2009, Hiddink yang melatih Chelsea merasakan betapa wasit perperan serta menggugurkan kesempatan The Blues berlaga di final Liga Champion. Pengadil bernama Tom Henning O...

Duh, Tahun ini Inter Tanpa Gelar

Gambar
sumber gambar:indonesia.inter.it Sekiranya Inter lolos dari babak perdelapan final Liga Champion tahun ini, belum tentu juara tahun 2010 bisa terulang. Tapi paling tidak, dengan terus bermain di LC, Inter bisa menjaga martabatnya sebagai tim besar Eropa.  Rentetan hasil buruk di kompetisi domestik, baik itu di Serie A ataupun Coppa Italia, kembali terulang di level Eropa. Tahun ini I Nerazzurri terpaksa menikmatinya tanpa satupun trofi utama. Sebagai interisti sejati, saya mencoba pura-pura lupa tahun berapa terakhir kali La Beneamata tidak mendapatkan juara. Sudah lama sekali yakni pada musim 2003/2004, ketika saat itu Inter masih belum sekuat tahun-tahun terakhir ini. Sesudahnya, dari 2004/2005 hingga musim lalu, Inter paling tidak bisa merebut juara di kompetisi level dua seperti Coppa Italia. Puncaknya tentu saja musim 2009/2010 tatkala Mourinho mempersembahkan treble winner untuk interisti. Sepeninggal The Special One,...

AC Milan Hampir Mengecewakan Italia

Gambar
sumber gambar: acmilan.com Sekiranya gagal lolos ke babak perempat final Liga Champion musim ini, lengkaplah predikat AC Milan sebagai klub “pemberi rekor”. Menang 4-0 dari Arsenal di leg pertama membuat leg kedua 16 besar begitu mudah bagi I Rossonerri. Tapi, menilik masa lalu, kemenangan besar itu justru bisa jadi momok.   Dalam satu dekade lalu saja, AC Milan dua kali "memberi rekor" di keikutsertaannya di Liga Champion. Perempat final musim 2003/2004, tim asal kota Milan ini begitu meyakinkan ketika mengalahkan Deportivo La Coruna, 4-1 di San Siro. Tapi di Riazor, Super Depor berhasil membalikkan keadaan dengan unggul 4-0. Tidak ada yang menyangka, tim yang sangat berpengalaman di liga Eropa bisa takluk dari klub “bau kencur” asal Spanyol itu. Namun, peristiwa pertama itu tidak bisa mengalahkan apa yang terjadi di Istambul, musim 2004/2005. Inilah babak pemuncak untuk menasbihkan diri siapa tim terbaik di Eropa. AC Milan berhadapan dengan Liverpool yang dilat...

AC Milan Akan Beruntung di Lain Kesempatan

Gambar
sumber gambar: fifa.com Perdelapan final Piala Dunia 2010. Inggris tertinggal 1-2 dari Jerman di babak pertama. Untuk lolos The Three Lions harus mengejar selisih satu gol itu. Lalu datanglah momentumnya. Frank Lampard yang berdiri di luar kotak penalti  menerima bola yang lansung dilesakkannya dengan keras ke arah gawang. Si kulit bundar menyentuh mistar dan memantul dengan keras ke tanah melewati garis gawang. Tapi dengan cekatan Manuel Nauer mengambil bola seolah itu bukan gol. Sang wasit dan hakim garis pun mengiyakan tindakan Nauer. Inggris gagal menyamakan kedudukan dan harus kebobolan dua gol lagi sehingga harus berhenti di babak 16 besar. Di akhir laga Nauer mengatakan bahwa dia sengaja langsung melempar bola tanpa menoleh ke arah wasit dan hakim garis. Itu dilakukan supaya sang pengadil tidak perlu berpikir bahwa bola melewati garis gawang. Manuel Nauer memang cerdik! Saya pikir inilah apa yang disebut humanisme dalam sepak bola itu. Bahwa manusia memang tia...