Postingan

Akhirnya, Bocah-bocah U-16 Menebus Prestasi Timnas

Gambar
Menurut saya, adalah sebuah ironi bila bocah-bocah berusia di bawah 16 tahun menjadi tempat kita menggantung asa lahirnya prestasi sepak bola. Di negara sepak bola manapun, harapan itu seharusnya berada di pundak pemain-pemain senior. Tapi, keringnya prestasi sepak bola negeri ini di tingkat internasional membuat kita tidak peduli. Kelompok umur berapa pun, asalkan mereka mengenakan kostum tim nasional kebanggaan, adalah petempur-petempur sepak bola negeri ini. Itulah mengapa kita semua hanyut dalam euforia ketika malam ini Timnas Indonesia U-16 menggondol juara Piala AFF U-16. Perjuangan bocah-bocah itu di Stadion Gelora Delta Sidoarjo menebus kegagalan tim-tim yang lebih senior. Lima tahun lalu, di tempat yang sama, Timnas U-19 juga meraih juara pada turnamen Piala AFF U-19. Perjalanan mendapatkan kemenangan di partai final pun serupa, sama-sama melalui adu tendangan penalti. Setelah itu, kita tak berhenti berharap agar Evan Dimas dkk bisa menduplikasi gelar juara di kelo...

Percepatan Pembangunan Sepak Bola Nasional

Gambar
Ketua Umum PSSI Edy Rahmayadi berbincang dengan Menpora Imam Nahrawi dan Ketua Umum KONI Pusat Tono Suratman dalam Rapat Kabinet Terbatas Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional di Istana Negara, Selasa (24/1/2017). Sumber: Sekretariat Kabinet   Presiden Joko Widodo sangat menyadari aura magis Tim Nasional Sepak Bola Indonesia dalam menyatukan bangsa. Bahkan, barangkali sanggup melampaui wibawa sang RI-1. Ketika aksi 4 November 2016 memprotes dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama muncul, negeri ini seperti terbelah. Sejak 10 November, Presiden bersafari ke markas TNI, tokoh politik, hingga pemuka agama. Presiden terus menekankan pentingnya bangsa ini menjaga persatuan di tengah kebhinekaan. Namun, aksi massa yang lebih hebat malahan terjadi pada 2 Desember 2016. Blusukan Presiden memang sanggup meredam bentrok massa, tetapi kita masih dapat merasakan sentimen agama dan ras kian mengental. Di tengah suasana itulah Piala AFF 2016 berl...

Messi, Messi-nya Jerman, dan Keadilan

Gambar
Lionel Messi pasti paham apa itu ketidakadilan dalam sepak bola. Bersama Barcelona, dia percaya bahwa tim terbaiklah yang seharusnya menggondol trofi juara, di turnamen apapun itu. Saat El Barca hattrick gelar di Liga Spanyol dari 2009 hingga 2011, tidak ada yang meragukan kehebatan klub Catalan itu bersama pelatih Josep “Pep” Guardiola. Di Liga Champion, mereka menaklukkan tim favorit Manchester United di babak final 2009 dan 2011. Tatkala Barcelona kalah dari Inter Milan di musim 2009/2010, Messi merasakan ketidakadilan. Anak asuh Jose Mourinho memarkir, bukan bus, melainkan pesawat, yang membuat mereka tersingkir di babak semifinal. Penguasaan bola 90 persen mengadapi 10 pemain lawan kala itu, tidak mampu mengubah nasib. Peristiwa yang sama terulang di musim 2011/2012. Kali ini reinkarnasi Inter adalah Chelsea. Juga memakai kostum biru. Proses tersingkirnya sama: kalah di kandang lawan, gagal unggul agregat di leg kedua. Dan sama-sama menghadapi 10 pemain ketika John T...

Piala Dunia 2014: Brasil Makmur, Selecao Hancur

Gambar
Brasil membangun kedigdayaan sepak bolanya dari kekalahan. Pada 1950, Brasil yang menjadi tuan rumah Piala Dunia takluk 1-2 dari Uruguay dalam laga penentuan gelar juara. Semenjak itu, Brasil berbenah. Delapan tahun kemudian, gelar itu ditebus seorang Edson Arantes do Nascimento atau Pele. Pemuda 18 tahun ini menjadi bintang terang di Piala Dunia 1958 Swedia. Perjalanan sejarah Tim Samba kemudian ditentukan oleh kehadirannya. Pada 2008, Brasil terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2014. Tentu masa pahit 1950 itu tidak ingin diulang. Presiden Luiz Inacio Lula da Silva berhasil membawa kemajuan ekonomi. Brasil punya materi untuk menghelat pesta olahraga yang berbiaya tinggi. Tidak hanya coupe du monde , pada 2009 Kota Rio de Janerio juga ditunjuk menjadi tuan rumah Olimpiade 2016. Mungkin Lula ingin proyek mercusuar. Dia ingin ada proyek monumental yang dia wariskan. Ya, diwariskan. Karena yang menikmati dua even akbar itu adalah presiden Brasil saat ini Dilma Rousseff—jika k...

Berbenahlah, Les Blues!

Gambar
Pada Piala Dunia 2010, Perancis mempermalukan diri mereka sendiri. Gugur di babak penyisihan, pulang dengan membawa aib pemberontakan pemain. Empat tahun berselang, di Piala Dunia 2014, Les Blues tersingkir di perempat final. Namun, kali ini mereka angkat koper secara terhormat. Semalam, Perancis tidak beruntung. Bahkan ketidakberuntungan itu dimulai sejak undian grup pada akhir 2013 yang memprediksi mereka bertemu Jerman di babak delapan besar. Tim Panser kembali membuktikan diri sebagai spesialis turnamen. Satu sundulan Mats Hummels cukup untuk lolos ke babak empat besar. Perancis memang kehilangan gereget sebagai tim besar sejak Zinedine Zidane pensiun usai Piala Dunia 2006. Kemudian muncul pemain yang dianggap layak menggantikan Zizou. Salah satunya Franck Ribery. Kebintangan Ribery tak perlu diragukan, khususnya di level klub. Sejak hijrah ke Bayern Muenchen pada 2007, dia menjadi salah satu aktor kesuksesan klub Jerman tersebut. FC Hollywood sukses diantarkan merebut...